Quick Review: Xiaomi Redmi Note 3

Akhirnya ngeblog lagi setelah 134873 tahun nggak posting apa-apa! Tenang, kali ini saya nggak mau curhat menye-menye gegalauan ala milenial kekinian kok, tapiiiiii… yup, saya mau nge-review henpon baru. Hahahaha, asik ye, muncul-muncul ada yang minjemin henpon :)))

Ponsel yang saya review di sini adalah Xiaomi Redmi Note 3. Sebenernya ada 2 versi; yang make MediaTek Helio X10 (octa-core 2GHz) dan Snapdragon 650 (quad core 1.4GHz + dual core 1.8GHz). Beberapa ada yang nyebut versi Snapdragon ini Redmi Note 3 Pro, tapi pihak Xiaomi sendiri nggak bilang gini lho. Nah, yang sedang saya pake lalu review serta dijual di pasar sini itu yang make Snapdragon. Kita nyebutnya ga usah pake pro-proan ya, biar nggak kayak Pilgub. #eaaa

Desain, konstruksi dan layar

Biar kayak tech blogger – tech blogger heits, review harus dibuka sama  unboxing dong ya. Saya sudah bikin nih, dan isinya ya standar Xiaomi sih: ada henponnya, kepala colokan, kabel data/charger, dan quick guide beberapa lembar. Ga dapet headset.

Build quality ponsel ini menurut saya top notch untuk kelas dan harga segini. Berbodi metal dengan lengkungan di pinggirnya membuat ponsel nyaman digenggam dan tampil wah jika dilihat mantan. Bagian depan didominasi layar 5.5″ beresolusi full HD (1080×1920) yang mendukung 16juta warna. Tajem dan menyenangkan mata! Brightness pun cukup oke buat penggunaan outdoor (Xiaomi menyebutnya Sunlight Display). Oh ya, layarnya tahan gores loh!

Fingerprint scanner di bagian belakang bodinya pun akurat dan cepat (cek video di bawah). Cukup menyentuhkan ujung jari yang sudah ter-register sebelumnya untuk meng-unlock ponsel. Fitur ini juga bisa digunakan untuk memproteksi apps yang kita inginkan. Ya siapa tahu kan udah punya pacar tapi nggak bahagia dan diem-diem nginstall Tinder.

Antarmuka, performa dan kamera

Redmi Note 3 ini running Android 5.1 dengan MIUI 7 di atasnya. MIUI 7 ini fluid, colorful, dan banyak fitur tambahan dari Xiaomi yang berguna banget (jadi bukan bawaan Android-nya).  Sebut aja ada themes biar tampilan henpon kita ga ngebosenin kayak day job di kantor, fitur security yang sebenernya kumpulan apps berguna buat hidup sehari-hari.

Sedikit overview tentang fitur MIUI yang menarik dan berguna.

Tidak ada masalah yang dijumpai dalam penggunaan sehari-hari, ponsel sangat responsif dan multitasking seperti on the fly aja. Sebagai informasi, skor benchmark AnTuTu ponsel ini 76226. Saya nggak gitu peduli sih sama ginian selama penggunaan di real life enak aja, tapi beberapa orang pengen tau angkanya, so here. Daya tahan baterai juga bagus banget, sekali charging bisa  bertahan sampai seharian penuh.

Xiaomi Redmi Note ini dilengkapi dengan kamera utama beresolusi 16 MP dan kamera depan 5 MP, keduanya mampu merekam video sampai 1080p. Fitur kameranya sendiri terbilang lengkap untuk menunjang kehidupan fana kita ya, ada 12 filter dan berbagai scenes, panorama, timer, beautify (cewek-cewek pada demen nih!), tilt shift, fish eye, sampai manual mode (tapi manual mode-nya cuma buat white balance dan ISO, ga ada buat shutter speed gitu. Mungkin di update selanjutnya bakal dapet nih fitur). Hasil jepretannya lumayan bagus untuk kondisi cahaya berlimpah. Reproduksi warna termasuk akurat, ketajaman tidak mengalami oversharpening yang bikin foto jadi ga realistis gitu, highlight dan shadow masih bisa dibedakan dengan baik. Tapi HDR-nya agak over nih, langitnya sampe jadi putih gitu hahaha. Secara overall kamera Redmi Note 3 ini cukup mumpuni dan kelengkapan fiturnya termasuk generous untuk harga segini.

Berikut beberapa sampel foto di kondisi kurang cahaya, cukup cahaya (termasuk HDR) dan sampel video.

Verdict dan ketersediaan

Setelah kurang lebih 2 minggu saya make Redmi Note 3, banyak hal yang saya sukai dari ponsel ini. Desain yang nggak malu-maluin buat ditenteng ke meeting atau kondangan, build quality yang top notch abeeeesss, fingerprint scanner yang akurat dan cepat, serta performa dan daya tahan baterai yang tidak menguji kesabaran apalagi di bulan Ramadan gini. Not so good-nya mungkin kamera yang….. menurut saya okay cuman masih bisa di-improve lagi (misalnya, kelengkapan fitur di manual mode). Satu lagi, bodi yang kadang cepet panas kalo lagi “dipaksa” bekerja keras.

Redmi Note 3 ini sudah tersedia secara online di Lazada dan offline di Erafone serta toko-toko terdekat. Garansi resmi Xiaomi ya, bukan garansi distributor ala ala yang ngeles ga jelas kalo kita klaim garansi karena henpon kita kenapa-napa. Harganya dipatok Rp 2,6 juta, termasuk affordable untuk fitur dan kualitas sebagus ini. Recommended ga? Kalo kalian butuh henpon Android yang kameranya lumayan oke, desainnya cakep kayak Megan Fox, performa kenceng plus bonus fingerprint scanner, Redmi Note 3 ini kandidatnya. Kenapa sih Mol pake disebutin Android segala? Kan ada tuh yang minta rekomendasi mau fitur dan spesifikasi ini, ini, itu dan itu tapi ga mau Android.

Advertisements

On Flagship Devices

one

 

I’ve hookep up to Path for the last couple weeks and during the ups and downs using the app I discovered some interesting stuffs. And what I just recently figured out is….. you can do blogging on Path.

So Brama and I engaged in a rather unintended discussion last night—I posted a picture, he commented on that and then we exchanged thoughts along with some other commenters. I posted three lengthy responses and Brama screen-captured it. Some random guy shouted, “That could be one post on blog!”. Whoaaa, he made a point I never thought of.

Okay, here’s the copy of discussion with some editing and proofreads.

Brama: HTC device is always stunning but and then it gets boring, no?

My response:

If by ‘and then’ you meant ‘the next models, coming in the same year’, I need to clarify this.

There is flagship device (usually one model per year, or two if you’re powerhouse in term of resources and marketing) and nonflagship devices (the lesser models, aimed at wider market, usually priced lower than the flagship). Flagship is the epitome of aspirations—it should bring something really new to the market. Some innovations that never seen or existed before, e.g: photos that comes to life on HTC One, Exmor RS and all-glass omnibalance design on Xperia Z, Retina Display on iPhone 4, 13245 new sensors on Galaxy S4, etc). The keyword is NEWNESS. Something to change the game, if you will (Retina Display is a good example).

Thus, you dedicate more time and resources to build the flagship: premium materials (unless you have fetishism on plastics), high precision and craftmanship, 150,000 man hours, and so on. Imagine you’re making a dress for Lady Gaga or Jennifer Lawrence.

Then, nonflagship models. The don’t need to be premium, they just need to look good and feel great on the hands of your consumers. They are not manufactured in thousand man hours, they just need good built quality and mass amount. They should generate profit so you sell them as many as you can, in term of models and number. To sell such amount, you need to put reasonable pricetags so mass consumers can afford them. It’s like making a decent shirt to sell for about $30 so mortals like me and you can buy it. (mortals = any creature that makes money much less than Lady Gaga or JLaw do)

Let’s take a look at last year’s HTC One X and Desire VC. Compare them side by side, sheet by sheet, and relate to explanation above. FYI, Desire VC was bestseller here.

Of course, there are cases where gorgeous looking, full-features flagship do not sell really well. Sales number is not just about features and design, it’s highly dependent on marketing. No matter how awesome the devices, poor marketing efforts rarely generate high sales number.

 

Brama and I are good friends both online and offline. He blogs on culinary, gadgets, and some other things. Check him out.

Photo credit: masova

 

HTC elevate 1st meet up in Jakarta

New people.

It was a quiet afternoon at my workplace until my friend Panji mentioned me over a tweet whether I got an invite for HTC event in Jakarta. I was surprised and asked him back what event it was. He said HTC elevate meet up, and it’d be the first ever in Jakarta. Both Panji and I are members of HTC elevate, a VIP community programme run by HTC, aimed at customers and fans with by-invitation-only membership. In elevate, we make interactions with HTC and other members from around the globe, testing new softwares, participating in surveys. There are perks too, e.g. phone giveaways.

Continue reading “HTC elevate 1st meet up in Jakarta”