Pelajaran hidup dalam beberapa pekan terakhir ini

Musibah bisa datang kapan saja

Ini bener banget, lho. Jadi ceritanya minggu lalu saya pulang kantor bareng senior, kebetulan kami tinggal sekomplek. Ngobrol-ngobrol di dalam mobil sampai akhirnya kami tiba di depan komplek. Mobil masuk sedikit (jadi udah nggak di pinggir jalan raya) lalu saya buka pintunya gitu aja. BRUAKKK!!!!

Mendadak ada mas-mas naik motor kehantam pintu mobil tadi. Sebenernya mobil sudah parkir agak minggir sih, dan biasanya juga kalo saya dianterin sampe sini dan buka pintu nggak pernah ada motor nyerobot dari kiri. Saya ke luar, saya bantuin si mas-mas tadi berdiriin motornya lalu saya tanya apa dia nggak apa-apa (ya pasti kaget lah, Mol! Tiba-tiba kejedok pintu mobil dari samping gitu). Spion motor dia jadi longgar. Mungkin ada goresan juga sih, nggak gitu keliatan soalnya udah magrib waktu itu. Saya minta maaf, minta nomor mas itu, dia simpen nomer saya, saya suruh dia ganti atau servis apa yang perlu diganti/diservis, nanti tagihannya saya ganti. Dia setuju.

Malemnya dia SMS dan bilang maaf atas kejadian tadi. Dia nggak minta ganti apa-apa, cuma minta didoain semoga selalu hati-hati dan selamat di jalan (SERIUS LHO!). Saya bersikukuh akan mengganti kerusakan akibat insiden tadi. Dia SMS lagi dan bilang nggak apa-apa.

Sebagaimana musibah, rejeki pun juga datang dari arah yang tidak disangka-sangka

Kejadian awal minggu ini, sih. Jadi selama dua tahun terakhir ini saya make parfum dari brand Iceberg. Nggak gitu mahal, desain botolnya bagus dan creative director-nya baru tuh si Arthur Arbesser (yang terakhir gak nyambung). Pertama nyobain beli yang Pour Homme dan SUKA! Setelah hampir setahun, habis, dan saya ganti ke varian Amber.  Yang kedua ini wanginya lebih maskulin, lebih agresif, lebih raw. Belum setahun udah abis dan saya switch ke Cedar. This one is a big, fat, horrible mistake. Baunya bener-bener nggak cocok sama hidung saya. Too synthetic and stupid and enraging. Ya udah, beli parfum lagi di salah satu e-commerce yang lagi diskon. Kali ini saya switch ke brand Amerika, harganya lebih mahal sih daripada Iceberg tapi ya udah lah ya, namanya juga udah ga bisa hidup sama yang ini (?).

Setelah pembayaran selesai, tiba-tiba senior kantor (yang lain lagi, bukan yang minggu lalu pintu mobilnya saya pake buat ngagetin mas-mas tadi) menghampiri saya dan ngasih amplop. Dia bilang itu honor karena sudah menjadi juri acara…. apa ya, sejenis olimpiade sains ASEAN tingkat SMP tapi bukan olimpiade di bawah Kemendiknas. Mungkin kalo olimpiade sains itu Miss Universe, yang ini Miss World kali, ya. Sebenarnya acaranya sendiri sudah lamaaa banget, saking lamanya saya sampe mikir itu kerjaan pro bono. Saya tanya dulu si senior tadi, honor ini bisa dipertanggungjawabkan apa nggak, dia bilang bisa. Okay, saya terima. Jumlahnya nggak banyak, tapi lumayan lah ya buat subsidi parfum tadi hahahahaha.

There are things I will never like, but at least I have tried to like them

Akhir pekan kemarin saya ke Jakarta untuk makan-makan perayaan ulang tahun teman baik sekaligus muse saya, Fatima. Ketemu di salah satu mall di Jakara Pusat, ngobrol-ngobrol, foto-foto, Fatima niup kue, dan jalan bareng. Lalu kami ke Sushi Tei, dan beberapa teman lagi bergabung.

God, sushi is never my thing. Saya bingung mau pesen apa, nge-LINE salah satu temen yang suka makan di Sushi Tei dan nanya dia biasanya pesen apa, but the response was slow. That’s okay. Akhirnya saya pesen salad wortel dan salmon. Akhirnya? Ya nggak abis, sih.

Oh ya, ada kios sushi di salah satu mall di deket sini. Harganya sepertiga dari Sushi Tei. Saya coba mampir dan pesan sesuatu yang pake tuna. I may like it, I thought. Nggak juga. Beberapa hari kemudian saya balik ke situ, pesen yang pake unagi. This one may suit me better. Hasilnya? Sudah saya tulis di subjudul di atas.

Walaupun hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, setidaknya kita sudah mencoba. I believe giving a try (or two) is really important.

Life is a series of sebab akibat

This is true. Jadi minggu lalu saya jatuh sakit, ke dokter dan diagnosanya sih dispepsia, faringitis sama gejala DB. Senin dan Selasa jadinya nggak ngantor. Berhubung sakit, pakaian dalam pun saya laundry-kan (biasanya saya cuci sendiri). So, earlier this week I ran out of underwear. Setelah pulang kantor melipir ke Carrefour deh buat beli, sepulang dari sana mampir KFC. Eh, ketemu si Agung sama istri dan anaknya. Agung ini teman kerja di kantor saya sekarang dan saya kenal dia dari tahun-tahun terakhir kuliah di Bandung dulu. Oh ya, saya dan Agung beda unit kerja dan beda gedung, saking bedanya Jumatan pun di mesjid yang berbeda! Lalu kami cerita-cerita dan topik pembicaraan menjadi soal beasiswa. Kebetulan Agung ini dapet beasiswa prestisius dari salah satu Kementerian dan akan berangkat ke Korea untuk sekolah S-2 akhir bulan ini (lama nggak ketemu dan sekalinya ketemu malah semacam farewell gini). Dia cerita ke saya soal perjalanannya mendapatkan beasiswa ini, sekalian ngasih sedikit tips ketika wawancara. That somehow thrilled me.

Coba kalo saya nggak sakit minggu lalu, pasti nggak kehabisan celana dalam, jadinya nggak ke Carrefour dan mampir KFC, dan nggak ketemu teman yang ini, dan mungkin saja dia berangkat ke Korea tanpa saya tahu. The most important of all: his story really motivates me.

The Revenant is good, but The Big Short blows me out of the water

Beberapa hari yang lalu saya nonton The Revenant, setelah beberapa minggu yang lalu nonton The Big Short. Revenant bagus, terutama akting Leonardo Di Caprio dan Tom Hardy. Filmnya agak brutal dan bikin mual di beberapa adegan. Oh ya, si Inarritu sering banget pake close up shot ke wajah aktor dan kamera memutar mengelilinginya di film ini. Harus nonton nggak, Mol? Yes, kalo kalian nanti penasaran kenapa Leonardo Di Caprio diganjar piala Oscar.

There are good movies, and there are good movies that make you jump out of your seat and clap your hands. The Big Short masuk yang kedua. Filmnya tentang kolapsnya pasar KPR di Amerika tahun 2007/08, dengan beberapa tokoh terkait yang memanfaatkan kejadian tersebut untuk mengambil profit. Aktingnya Christian Bale bagus! Ryan Gosling juga bagus dan nyebelin! Steve Carrell bagus, agak nyebelin dan HARUSNYA DIA YANG DAPET NOMINASI OSCAR. Di film ini ada beberapa adegan semacam film dokumenter, jadi sesi penjelasan tentang sesuatu hal teknis dengan bahasa dan analogi yang lebih umum. Dan yang tau nggak siapa yang ngasih penjelasan? Margot Robbie, Selena Gomez, sama satu chef siapalah gitu. AAAAAARRRGGGGHHHHH saya pengen tepuk tangan pas adegan-adegan ini!

By the way, habis nonton The Big Short saya jadi baca-baca lagi soal credit default swap, bubble, subprime loans, CDO. Nggak ngerti-ngerti banget sih, tapi setidaknya tahu hal-hal baru. Rencananya mau dijelasin sama temen yang kerja di bank pas ketemuan tapi belum sempet ketemuan sampe sekarang.

Eh, cerita yang ini nggak ada pelajaran hidupnya, ya?

The most heartfelt acceptance speech at Golden Globes 2016

Kate Winslet delivered the most heartfelt acceptance speech at the Golden Globes yesterday.  She truly feels prouder than ever to be included in a category that is “crowded and crammed with incredible skills and integrity.” She thanks her co-actor Michael Fassbender, says he is a legend and she is overwhelmed by his talent. “You set the bar so high for everybody,” she adds. She also thanks her director Danny Boyle, who wasn’t in the room, for making films everybody is so proud to be a part of. Then she thanks screenplay writer Aaron Sorkin, “You’re cazy, I don’t know why you’d write that amount of dialogue to be able to say. It’s really quite hard and I would happily end my life knowing that I had spoken your verse.” Last but not least, she thanks her wonderful husband Ned Rocknroll for “make it all possible, always up for adventure”.

This speech is my favorite of the evening ceremony.

 

Perangko

Image

Siang tadi (well, sebenarnya seminggu yang lalu sih) rekan kerja saya menerima beberapa paket dari luar negeri dan kebetulan saya berada di dekat situ. Saya lihat paket tersebut dikirim dengan perangko, dan saya tanya dia apa saya boleh meminta perangko tersebut. Kemudian karena satu dan lain hal saya keluar kantor dan baru kembali sore ini. Tiba-tiba perangko yang masih menempel di amplop ini sudah ada di meja kerja saya! Wah!

Saya suka mengoleksi perangko ketika masih di SMP, walaupun sebagian besar bukan hasil korespondensi dengan sahabat pena. Seri favorit saya adalah flora dan fauna—ilustrasi yang bagus benar-benar menawan hati saya sejak dulu. Hobi tersebut tidak dilanjutkan sampai saya lepas SMA, ketika saya bepergian ke suatu negara dimana perangko bekas dijual dengan sangat murahnya (dan saya membeli beberapa).

Mungkin akan menarik jika berkorespondensi dengan seorang sahabat pena melalui surat dan perangko di jaman serat optik seperti sekarang 😀