BBM is coming to Android and I’m not thrilled

BBM

This is why.

Perangkat BlackBerry pertama saya adalah Pearl 9105—yang saya peroleh melalui sebuah kontes di tahun 2011. Desain yang ringkas dan cara baru dalam berkomunikasi dengan teman-teman menjadi magnet bagi ponsel cerdas ini. Di penghujung tahun itu pula saya mendapatkan BlackBerry Bold 9790 secara cuma-cuma. Papan ketik yang nyaman, chipset yang sedikit lebih kencang dan desain yang masih termasuk mungil membuat saya hooked up dengan ponsel ini sampai akhirnya saya dirampok di jalan pada pertengahan 2012. Tak lama kemudian, agensi RIM di sini meminjami saya sebuah Curve 9220 selama 2 minggu untuk saya ulas, kemudian mereka memperbolehkan saya memakai ponsel tersebut selama yang saya suka. Yeah, not everyone can be that lucky.

Saya dulu suka sekali dengan BBM. Ditambah dengan kapabilitas push email, saya tak bisa lepas dari perangkat BlackBerry yang pernah saya miliki. Saya pernah mencoba BlackBerry OS 5, 6, dan 7. Dari semua itu, ada satu pelajaran yang saya peroleh: ‘minimum hardware experience‘ (ini istilah saya saja). BBM dan fitur-fitur BlackBerry lainnya menyenangkan dipakai di layar 360×480 atau lebih, RAM 512 yang tidak sedang menjalankan banyak apps, prosesor 800MHz atau di atas ini, serta tidak sedang menimbun cache. Lewat dari itu, experience sudah mulai terganggu. Beberapa rekan kerja saya memakai BlackBerry. Banyak teman dari jaman kuliah dan sekolah juga memakai BlackBerry. Teman-teman baru, orang-orang yang saya butuhkan di saat tertentu saja (seller di Kaskus), dan tetangga di kampung yang pernah meminta PIN saya waktu Lebaran, semuanya saya kumpulkan di BBM.

Sampai akhirnya ‘tekanan’ itu datang:  peer pressure untuk menggunakan layanan yang lebih universal, dan faktor intrinsik karena saya sudah mencoba 2 OS lain (Android dan Windows Phone). Apakah Android lebih superior bagi saya? Entahlah. Tapi ‘what Android apps can do’ memang punya nilai lebih. Saya membaca artikel bagus di browser dan ingin saya simpan, tinggal share ke Pocket. Saya ingin melihat foto kucing di atas MacBook Air atau curhatan percintaan teman saya  yang panjang lebar, saya buka Path. Saya ingin melihat seharian itu Twitter crush saya ngapain aja, tinggal lihat tab khusus di Tweetdeck atau Tweedle. Etc etc.

Saya lakukan phasing out program (yeah, saya suka membuat-buat istilah). Teman-teman BBM yang menggunakan WhatsApp mulai saya kontak via WhatsApp. Jika saya ingin membeli barang dari Kaskus, saya hubungi seller via sms dan email. Saya lebih sering menelepon rekan kantor daripada mem-‘ping’. Selama beberapa bulan, beberapa mode komunikasi ini saya jalankan untuk mengurangi dependensi terhadap BBM dan BlackBerry. Hingga tiba suatu hari. “I’m ready to quit this,” kata saya di depan cermin sambil setengah telanjang (LOLJK!). Saya buat pesan broadcast BBM yang isinya mulai hari itu saya tidak menggunakan BlackBerry lagi dan silakan kontak saya via telepon, sms dan email jika ada hal penting. Respon mereka bagus, tidak banyak yang bertanya macam-macam. I quit.

Sekarang BBM segera hadir untuk Android—OS yang sedang saya gunakan sehari-hari. Apakah saya bahagia? Sedikit, karena RIM* berani mengambil langkah. Thrilled and can’t wait to give it a try? No. Menggunakan BBM lagi akan membuat saya kembali ke orang-orang itu. Orang-orang yang mulai saya persepsikan sebagai WhatsApp people, LINE people, harus-ditelepon-people, etc. Bukan karena saya tidak suka dengan mereka. Okay, saya memang merasa canggung dengan sebagian dari mereka, seperti seller Kaskus yang hanya saya hubungi sekali dan tetangga tadi. Tapi karena saya menghindari dependensi—apalagi redependensi (saya membuat istilah lagi).

Tapi bagaimana pun, saya turut berharap yang terbaik untuk RIM* dan BBM. Siapa tahu langkah ini akan membantu mereka merebut market share yang hilang selama beberapa tahun terakhir.

Catatan: di sini saya menggunakan kata RIM untuk merujuk pada Research in Motion dan RIM* untuk BlackBerry sebagai company (RIM yang berganti nama). Secara personal saya lebih suka menyebut mereka RIM. Apa yang Anda bayangkan ketika Beyonce atau Obama berkata, “I need to buy BlackBerry!” kemudian seorang pekerja kelas menengah ibukota berkata serupa? Yeah, that.

Advertisements

10 thoughts on “BBM is coming to Android and I’m not thrilled

  1. jadi bang, BBM ke Android itu ga begitu menggugah hati saya. Kalopun ada, saya ga bisa pake karna Android 2.3 (ga mau upgrade ke 4.0 karena SE udah jadi Sony). Tapi, mungkin memudahkan hubungan saya ke pacar kalo ada BBM, minimal beli paket ga musti full service (karna pake whatsapp), beli paket yang bbm doang juga udah bisa. *uhuk

    sekian dan terima blackberrymu kalo udah bosen bang

    1. 1) apa hubungannya sih ga pengen upgrade ke versi Android dan status SE/Sony? Ga mau beli model baru? Ada kok beberapa model lama yang di-support sampe 4.0 kayak ray, arc etc. Masih SE kan?
      2) Kenapa ga pacarmu aja yang pake WhatsApp sih? :))))

  2. Mol is not impressed… hahaha..
    Tapi aku pun tidak menunggu-nunggu BBM on Android maupun iOS sih. Kita lihat nanti saja, memang berguna dan akan terpakai gak ya?

    Cheers 🙂

      1. Nggak masalah buat RIM* selama mereka sukses jualan services BBM ini. LINE, Kakao, etc ga pernah jualan hardware tapi sukses-sukses aja tuh. Yaaa mungkin beberapa orang jadi stucked di model BB lama & yang ada sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s