Tentang Warteg dan Warung Nasi Goreng

warteg

This post is not about food recipe.

Bermula dari kelaperan di malam hari, terus cerita di postingan Path, lalu beberapa teman menimpali.  Di-post di sini aja deh sekalian.

Jadi di depan kompleks perumahan ada beberapa warung langganan, dan saya perhatikan ada kesamaan pattern soal perilaku mudik pemiliknya. Ada satu warteg, sepertinya yang kerja di situ asli Tegal semua (atau daerah sekitar sana), judging from their accent. Warteg ini punya beberapa pelayan, laki-laki dan perempuan, dan sehabis libur Lebaran biasanya mereka ganti orang (sebagian pulang kampung dan digantikan dengan orang baru). Warteg ini biasanya mulai tutup seminggu sebelum Lebaran dan masih tutup sampai 2 minggu setelah Lebaran (bahkan lebih).

Ada lagi warung nasi goreng, pemiliknya pasutri dan satu anak yang sepertinya berasal dari daerah yang sama dengan si pemilik warteg. Saya kurang begitu memperhatikan kapan mereka mulai tutup menyambut Lebaran, tapi yang pasti mereka masih tutup seminggu sampai dua minggu setelahnya. Saya sering makan malam di sini, soalnya si ibu udah ngerti selera saya. 

Insights yang menarik bagi saya: bagaimana mereka yang bekerja di sektor informal ini me-manage cash flow selama hampir setahun sehingga ‘tabungan’ mereka cukup untuk taking a Lebaran break selama itu. Yang saya amati, teman-teman saya yang bekerja di sektor formal tidak ada yang mengambil cuti selama itu (teman-teman di kantor saya paling lama 3 hari). Hipotesis sotoy saya nih ya: pemilik warteg dan wasgor ini punya attitude ‘cukup nggak cukup harus pulang kampung bawa duit yang banyak’. Jadinya itu yang memotivasi mereka untuk bekerja keras, berhemat dan menabung selama kurang lebih 11 bulan untuk ‘dinikmati’ di sebulan sisanya. Sampai di sini kemudian beberapa teman menanggapi dengan pendapat masing-masing.

Kalo kata Mas Joddy (mid 20-an, karyawan swasta di bilangan Kuningan), keuntungan yang dihasilkan dari jualan makanan itu lumayan gede, bahkan sampai 50%. Belum lagi, harga-harga barang dan pemuas kebutuhan di kampung halaman mereka lebih murah daripada di Jakarta. Si Titis (mid 20-an, mahasiswi di negeri kumpeni) menimpali bagaimana mereka bisa mencapai laba sebesar itu: harga makanan jadi bisa 2 kali lipat daripada bahan baku, mereka atur kuantitas bumbu dan porsi, dan satu lagi, warteg itu punya konsumen tetap yang tidak tergantung musim. Plus, warteg tidak mengeluarkan biaya untuk promosi. Tambahan dari Mas Chicko (mid-20-an, selebtwit tersohor seantero Cirebon dan sekitarnya); yang mahal itu bukan biaya hidup, melainkan gaya hidup (iya sih).
Menurut Disty (mid 20-an juga, banker di Jakarta, makannya banyak), warteg tersebut sudah ada di mature business stage. Pasar sudah ada, demand bisa diprediksi karena ow flux. Keuntungan bisa dipatok di persentase tertentu karena mereka sudah memegang supply dan demand.  Bisnis makanan itu termasuk high risk high return, kata wanita yang hobi berkreasi dengan hijab-hijab mahal ini. “Semua orang butuh makan, tapi makanan juga banyak substitusinya,” imbuhnya.
Advertisements

2 thoughts on “Tentang Warteg dan Warung Nasi Goreng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s