Review Singkat: Pacific Rim (2013)

pacific1

A summer amusement every mortal should watch and enjoy.

Ini adalah film ketiga tahun ini yang bikin saya pengen berdiri dan tepuk tangan di tempat setelah Argo dan Now You See Me. Review singkat:

The visuals are stunning. Breathtaking. Or awesome, if you have no word to describe it. Desain jaegers yang keren banget bahkan sampe ke goresan-goresan akibat keseringan dipake, adegan jaeger nonjok wajah kaiju serta ngepruk pake kapal, gedung-gedung yang dihancurin kaya dibangun ga pake duit, etc etc. Entah komputer macam apa yang mereka pake untuk me-render gambar-gambar tsb. Hampir setiap frame yang make efek visual membuat saya ‘haaaa…’. Gasp.

The level of terror and emotions. Bagi yang suka Cloverfield (2008), sensasi melihat teror, kehancuram, rasa takut dan keputusasaan di Pacific Rim sama seperti ketika menonton film tsb. Pacific Rim melipatgandakan sensasi tsb 6-7 kali lipat. Bagaimana para kaiju meraung, marah dan bertarung dengan brutal, sampai meluluhlantakkan Hong Kong benar-benar membuat penonton diam tak bergerak. Both terrifying and amusing to me.

pacific2

This is film is very humane. Ada si Raleigh (Charlie Hunnam) yang melawan trauma, si Mako (Rinko Kikuchi) yang begitu termotivasi melawan masa lalu dan kaiju, si Stacker (Idris Elba) yang begitu takut kehilangan Mako (daddy issue?), dan sepasang saintis, Newton & Hermann,  yang menjadi epitom ideal profesi tsb: berpegang teguh pada hipotesis masing-masing dan mencoba segala hal untuk membuktikannya. Bagaimana orang-orang dari berbagai latar belakang dan bangsa ini mengatasi problem masing-masing, menghadapi ketidakcocokan satu sama lain, kemudian bersatu ‘menggagalkan hari kiamat’ tereksplorasi dengan apik di sini.

Pacific Rim doesn’t glorify USA. Di banyak summer blockbuster, tema film seringkali se-shallow ‘USA saves the world’. Amerika selalu menjadi pahlawan. Di sini enggak. Jaeger dibuat bersama-sama. AS, Australia, HongKong, Rusia, dll juga bersama-sama mengerahkan apapun yang mereka punya untuk menghentikan kaiju dan kehancuran. Pacific Rim lebih menekankan diri pada konsep Pasifik secara geografis, bukan politis.

Kejutan dari duo saintis yang saya sebut tadi: Newton Geiszler (Charlie Day) dan Hermann Gottlieb (Burn Gorman). Mereka dengan sukses menghadirkan humor proporsional ke dalam film ini sejak adegan pertama kemunculannya (“Hanya ibuku yang memanggilku doktor,” kata Newton and that’s hilarious!). Hampir di sepanjang film, mereka tidak pernah cocok satu sama lain dan masing-masing keukeuh dengan apa yang mereka percayai. Tapi siapa nyana, teamwork keduanya ternyata menjadi penentu kesuksesan usaha para manusia di film ini.

Foto : IMDB, Cinemablend.

Review ini sebelumnya di-posting di Path dan diubah seperlunya untuk di-posting di sini.

Advertisements

One thought on “Review Singkat: Pacific Rim (2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s