Review Awam: 9 Summers 10 Autumns (2013)

image

Nonton film ini semalam di WTC Serpong. Jarang-jarang main ke sini, terakhir waktu diputar Lovely Man tahun lalu. Sebagai perbandingan: studio yang memutar Iron Man 3 terisi penuh, sedangkan yang memutar film 9S10A hanya 3 kursi yang terisi ketika saya membeli tiket masuk. Agak miris ya, padahal menurut beberapa teman ini film yang bagus.

[Beberapa bagian dari review ini mengandung spoiler, silakan skip post ini jika Anda tidak berkenan]

9S10S diceritakan dengan alur maju-mundur, dan Ifa Isfansyah sang sutradara mempartisinya dengan cerdik. Kehidupan Bayek (tokoh utama di film ini) di Batu dari awal 1970an hingga 1990an dia sajikan dalam gambar-gambar dengan warna lembut dan agak saturated, semacam filter rise atau valencia di Instagram, sedangkan masa dewasanya yang sebagian di Jakarta dan selanjutnya di New York ditampilkan dengan warna yang lebih hangat dan hidup. Keduanya menyajikan frame gambar yang sangat puitis: jalan di lereng pegunungan Batu, jalan sempit dengan tembok tinggi di samping rel kereta, musim gugur di taman, jalanan di New York yang ramai namun ‘dingin’, dan masih banyak lagi. Secara teknis, film ini memang indah.

Dari segi cerita, Ifa cerdas sekali membangun momen-momen pivotal yang mengaduk emosi penonton di sana-sini.

Ihsan “Indonesian Idol” Taroreh memainkan tokoh Bayek dewasa dengan cukup baik, tapi sayangnya performance-nya harus dibayang-bayangi oleh Alex Komang dan Dewi Irawan (bapak dan ibu Bayek) yang begitu bagusnya sampai saya berani bilang keduanya layak diganjar penghargaan aktor dan aktris pendukung terbaik tahun ini. Shafil Hamdi Nawara memerankan Bayek kecil dengan brilian. Tokoh Midah (Hayria Faturrahman) yang muncul di akhir masa remaja Bayek seolah-olah hanya tempelan untuk mengingatkan penonton tentang eksistensi friendzone (saya berekspektasi Midah ini adalah childhood sweetheart si Bayek yang kelak akan…. ah sudahlah). Tempelan yang menurut saya membekas hanya Ence Bagus. Roby Muhammad, yang setahu saya memang akademisi, memerankan dosen Bayek dengan canggung dan kurang meyakinkan.

Plot cerita dibangun agak pelan, namun penonton tidak bosan karena adegan-adegan pivotal di sana-sini. Bagi saya pribadi, ada tiga adegan yang berhasil membuat saya mbrebes mili. Adegan ketika Bayek memeluk ibunya yang nangis sesenggukan di pawon, ketika Bayek wisuda sarjana dan voice over “lulusan terbaik”, kemudian ketika Bayek dewasa pulang dan membantu meletakkan kunci inggris di tangan bapaknya yang sedang mereparasi mobil yang kemudian si bapak berseru “Anak lanang!”. Seruan yang sama yang membuka film ini.

Meskipun begitu, bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan. Kehidupan Bayek dewasa di New York kurang begitu dieksplorasi kecuali dengan adegan dia berjalan ke sana ke mari, mengajukan resign, dan sesekali bekerja di kubikel dengan rekan wanita yang berperan dengan canggung. Tidak diceritakan bagaimana dia mencapai posisi puncak di sana–sangat berbeda dengan hidup Bayek ketika masih di Jakarta. Seolah-olah hidup Bayek di film ini terdiri dari 10 bab dan di bab ke-7 atau 8 Ifa terburu-buru meloncat ke adegan penutup karena kehabisan durasi. Sangat disayangkan.

Bagi saya pribadi, film ini menjadi lebih emosional karena banyak hal yang bisa saya relate dari hidup si Bayek ke hidup saya sendiri.