Kepada yang terhormat Bapak Fauzi Bowo, dan siapa pun yang akan memimpin jakarta nanti

 Stop that*.

Bapak Foke yang saya hormati,

Perkenalkan, nama saya Mulyono, seorang pegawai negeri sipil di salah satu lembaga pemerintah nonkementerian di bawah Kementerian Riset dan Teknologi RI. Sehari-hari saya bekerja di Serpong, dan sudah 3 tahun saya tinggal di sini. KTP saya memang masih KTP daerah, dan Serpong bukan bagian dari DKI Jakarta secara administratif, tapi hal-hal tersebut tidak akan menghentikan saya untuk menulis surat terbuka ini untuk Bapak.

Minggu malam (17/6) lalu saya mengalami penodongan dan perampasan paksa di kawasan Blora, dekat stasiun Sudirman (dan setahu saya, daerah ini adalah bagian dari DKI Jakarta–yang Bapak pimpin saat ini). Bapak (atau staf Bapak, atau siapa pun yang bisa Bapak suruh) bisa membaca kejadian lengkapnya di posting yang ini.

Terus terang, 3 tahun saya tinggal di Serpong belum pernah mengalami kejadian senaas itu. Disclaimer: Minggu malam kemarin bukan pertama kalinya saya lewat daerah sekitar Sudirman pada petang hari, dan selama ini alhamdulillah saya baik-baik saja.

Saya sekarang memandang kota yang Bapak pimpin tersebut dengan berbeda: sangat tidak aman bagi beberapa warganya. Saya tahu Bapak seorang Gubernur (di samping lain-lain yang tidak perlu saya ketahui, sih), dan tugas Gubernur itu banyak. Menjamin keamanan bagi warga seharusnya menjadi prioritas Bapak, dan saya memandang Bapak sudah gagal soal jaminan ini.

Ini sedikit pemikiran saya. Oh ya, saya bukan ahli demografi, ataupun ahli kriminologi, ataupun ahli lainnya. Ini murni pemikiran dari seorang warga sipil yang kebetulan baru saja menjadi korban kriminalitas di kota yang Bapak pimpin. Mohon jangan tutup browser sebelum selesai membaca blog post ini, Pak.

Darimana sih preman-preman ini, Pak? Memang warga asli DKI (yang kecil dan dibesarkan di sini) yang kebetulan tidak memiliki pekerjaan tetap kemudian menjadi kriminal? Atau para pendatang dari daerah yang kebetulan tidak mendapatkan pekerjaan tetap lalu memilih menjadi kriminal? Jika mereka ini golongan pertama, saya tidak punya solusi, sih Pak. Kecuali Bapak membangun pabrik-pabrik baru dan mempekerjakan mereka di sana, menggaji dengan layak, dan melakukan apapun yang Bapak bisa sehingga mereka tidak perlu menodong orang lain. Very unlikely.

Jika mereka para pendatang (yang tidak seberuntung saya), ini pemikiran saya. Saya tidak percaya pemerintah Bapak “tidak bisa melarang dan menyetop orang datang ke Jakarta”. BISA, BAPAAAAAAK! Setiap pendatang baru di DKI harus Bapak pastikan memiliki pekerjaan tetap, mungkin bisa dibuktikan dengan referensi dari atasan. Oh ya, atasan di sini tidka harus bos di kantor ya, pemilik konter pulsa, pemilik warteg, pemilik salon, juga bisa menjadi atasan bagi pekerja yang datang dari daerah. Atau jika mereka menjadi wiraswasta, pastikan ada keterangan dari RT, RW, atau apalah itu. Nah, bagi mereka yang tidak jelas, pulangkan. Either ‘baik-baik’ atau ‘dengan paksa’ (Bapak boleh menafsirkan kata-kata dengan tanda kutip ini). “Tapi kan itu susah, butuh banyak kerja dan anggaran, Nak!” Ya itulah yang namanya amanah bagi pemimpin, Pak. Kalo Bapak tidak siap dengan amanah seberat ini, tentu Bapak nggak akan repot-repot bikin billboard, poster dan apapun lah itu.

Saya tidak memiliki hak pilih pada Pilkada nanti, tapi saya tetap ingin menyampaikan aspirasi melalui blog post ini, Bapak Foke yang terhormat. Untuk Bapak-bapak lain yang nanti memimpin DKI, dua paragraf sebelum ini silakan dibaca. Jangan dibaca saja, tapi.

Demikian uneg-uneg saya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

Salam,

Mulyono

*by ‘that‘, I mean ‘that kind of smile’, Sir. Once you stop smiling that way, we can talk about this**.
** by ‘this‘, I mean ‘rasa aman bagi warga Bapak’. Terima kasih.

Photo credit

Advertisements

6 thoughts on “Kepada yang terhormat Bapak Fauzi Bowo, dan siapa pun yang akan memimpin jakarta nanti

  1. semoga pemimpin yang terpilih nanti benar2 dipihak rakyat.Amin. walaupun bukan warga jakarta,s aya ikut mendoakan. 😉

  2. Iyaaa, harusnya sih begitu yaa. larang orang gak jelas yang datang ke Jakarta. Aku aja sih gak kerasan tinggal di Jakarta, kota paling tidak nyaman buat saya.SalamUchaaa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s