Kepada yang terhormat Bapak Fauzi Bowo, dan siapa pun yang akan memimpin jakarta nanti

 Stop that*.

Bapak Foke yang saya hormati,

Perkenalkan, nama saya Mulyono, seorang pegawai negeri sipil di salah satu lembaga pemerintah nonkementerian di bawah Kementerian Riset dan Teknologi RI. Sehari-hari saya bekerja di Serpong, dan sudah 3 tahun saya tinggal di sini. KTP saya memang masih KTP daerah, dan Serpong bukan bagian dari DKI Jakarta secara administratif, tapi hal-hal tersebut tidak akan menghentikan saya untuk menulis surat terbuka ini untuk Bapak.

Continue reading “Kepada yang terhormat Bapak Fauzi Bowo, dan siapa pun yang akan memimpin jakarta nanti”

Advertisements

Jalanan Jakarta yang Tak Aman

hati-hati di jalan, Jendral!

Saya ingin berbagi cerita soal pengalaman saya ditodong dan dirampok semalam. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati berjalan kaki di jalanan Jakarta, terutama pada petang hari.

Semalam (Minggu, 17/6/2012) saya keluar dari Grand Indonesia sekitar pukul 9 lewat sedikit, dan berjalan kaki menuju stasiun Sudirman. Berhubung jarak halte Tosari dan Dukuh Atas tidak begitu jauh, saya pikir lebih cepat berjalan saja daripada menunggu busway.

Di trotoar seberang stasiun Sudirman, yang di sampingnya penuh dengan pohon rindang, ada 2 orang berjalan dari arah berlawanan. Yang satu posturnya tidak gempal, sedikit lebih pendek daripada saya (mungkin sekitar 165cm), tidak terlalu kurus, umurnya sekitar 20-an, mengenakan t-shirt (saya lupa-lupa ingat warnanya, semacam hijau atau cokelat, waktu itu agak gelap) dan celana pendek.  Satu lagi lebih dekil, +/- 165cm juga atau kurang, t-shirt dan celana pendek juga, rambutnya agak keriting bergelombang, bertindik di bawah bibir dan kuping kiri (saya lupa ada tindik di hidung juga atau tidak). Ketika kami berpapasan, si t-shirt hijau/cokelat (A) menyapa saya, “Mas, ada duit 2 ribu nggak? Buat beli makan.” Saya balas dengan sopan, “Wah, buat beli tiket pulang, Mas.” Si A langsung mengeluarkan pisau dari balik kaosnya sambil menghardik saya, ‘Lo kasih ato gw tusuk?”, sedangkan satunya lagi (yang bertindik, si B) mendadak sudah memegangi saya dari belakang. Saya benar-benar lemas saat itu juga, sekaligus blank dan tidak tau harus bagaimana. Saya turuti kehendak mereka. Ini lokasi pencegatan pada map di bawah.

Mereka berdua menggiring saya duduk ke bawah pohon di samping trotoar. Si A tetap menodongkan pisau, sedangkan si B mulai memaki-maki saya (untuk menekan psikologis saya). Mereka menggeledah saya, mengambil dompet dan BlackBerry, kemudian menggeledah tas dan mengambil Nokia Lumia saya. Saya disuruh melepaskan jaket, topi, dan kacamata, semuanya mereka ambil. “Lo gak usah macem-macem, ato gw bunuh di sini!” ancam si A. Saat itu hanya satu hal yang ada di otak saya: “Saya nggak boleh kena tusuk. Saya nggak boleh mati.”

Selesai menggeledah, mereka menggiring saya ke trotoar dengan posisi si A di depan, saya di tengah, dan si B memegangi saya dari belakang. “Ikut kita ke bus,” kata si A sambil menghentikan sebuah bus (sepertiya Kopaja). Saat bus mulai melambat. entah keberanian darimana, saya dorong si A sekuat tenaga saya sampi dia hampir membentur badan depan bus. Saya lari sekencang-kencangnya (rute biru di map), turun ke lorong bawah dan menuju stasiun. Saya sama sekali tidak berpikir untuk berteriak, atau mengeluarkan suara sedikitpun.

Di stasiun, saya langsung beri tahu si penjaga loket bahwa saya baru saja ditodong. Dengan cepat dia panggilkan 2 security, keduanya mengajak saya ke TKP. Sesampainya di TKP, tidak ada siapa-siapa kecuali 2 orang lain. Mereka bilang “Tadi sih ada dua orang nyebrang jalan gede ini ke arah sono (stasiun, atau Jl Blora), Pak.” Dari ciri-ciri yang mereka kemukakan, sepertinya yang kabur itu memang si penodong.

Saya kembali ke stasiun, lalu salah seorang security membawa saya ke Pos Polisi Blora (yang di bawah stasiun itu). Pak polisi tidak ada, terpaksa saya menunggu sampai ketinggalan kereta terakhir ke Serpong. Lama kemudian, seorang polisi datang dan saya melapor. Surat keterangan kehilangan barang pun dibuat. Pak polisi menyarankan saya untuk melapor ke Polsek/Polres Tanah Abang karena ini termasuk tindak kriminal, saya bilang tidak malam ini, yang penting saya dapat surat kehilangan saja dulu (dan keselamatan). Sekitar jam 22.30, pak polisi mengantarkan saya mencari taksi, menjelaskan kondisi saya kepada si sopir dan saya pulang dengan taksi ini, tanpa uang sepeserpun. Sesampai di kosan (Serpong), saya pinjam uang teman untuk membayar ongkos.

Semalam juga saya langsung memblokir 2 kartu ATM, dan berhasil. Saya lacak BlackBerry saya via BlackBerry Protect, posisi terakhir sekitar jam 12 malam ada di depan Robinson (persimpangan Jl Ragunan dan Jl Pasar Minggu). BB segera saya wipe, dan berhasil, namun ketika akan saya lock semuanya gagal. Sepertinya SIM card baru saja dicabut jam segitu. Untuk Lumia 710,  fitur Find My Phone tidak berhasil saya jalankan. Ah sudahlah, gadget bisa beli lagi nanti. Teman-teman, fitur ini penting banget, mohon diaktifkan saja di BB atau Windows Phone kalian ya.

Hari ini (18/6) saya sudah mengurus kartu ATM baru, satu SIM card, dan Kartu Pegawai; tinggal KTP dan satu SIM card lagi.

Siapapun yang membaca blog post ini, berhati-hatilah berjalan di Jakarta. Usahakan tidak sendirian, atau gunakan transportasi lain semacam taksi. Saya bersyukur nyawa saya baik-baik saja, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya mengikuti para penodong itu sampai naik ke bus. I could have been died, unidentified.

Photo credit: pipitojourno (dengan perubahan seperlunya)