Rusa dan Macan

Bedtime story. Or such.

di sebuah hutan terpencil, hiduplah seekor anak rusa yg riang gembira. bertungkai kurus dan bergerak lincah. berbulu lembut dan berdaging sedikit.

sang Rusa gemar merumput di pagi hari, ketika embun masih membasahi makanannya.
siang hari, Rusa bermain bersama anak burung Parkit, anak Kucing Hutan, dan anak Musang. mereka gembira sekali. menjelajahi sudut-sudut hutan, mereka bermain hingga sore hari. kemudian mereka pulang ke induk masing-masing.

keesokan harinya, mereka bermain kembali. begitulah seterusnya.

Suatu hari, Rusa terpisah dari teman-temannya. Dia berjalan sendirian dalam hutan. si Rusa sepertinya tersesat. kemudian, dia bertemu makhluk yg belum pernah dia lihat sebelumnya.

“Wahai binatang kecil, makhluk apakah kau ini?” tanya Rusa dengan polos kepada makhluk di hadapannya.

“Kau tidak tahu aku ini apa?” sang binatang asing balik bertanya.

“Aku belum pernah melihat binatang sepertimu sebelumnya,” jawab Rusa.

“Aku ini anak Macan,” jawab si binatang asing sambil beringsut.

“Macan? Dimanakah teman-temanmu? O iya, namaku Rusa,” katanya dengan menyunggingkan senyum.

“Mereka tidak ada di sini,” kata Macan. “Kamu tidak takut denganku?” tanyanya dengan heran.

“Kamu tidak tampak menakutkan, Macan. Kamu sepertinya suka bermain,” jawab Rusa.

“Aku senang bermain. Menemukan hal-hal baru,” jawab Macan.

“Hal baru? Seperti apa itu?” tanya Rusa dengan antusias.

“Hal-hal yg memperkaya hidup, wahai anak Rusa. Berlarian dengan anak-anak macan lain, misalnya, untuk memperkuat kakiku,” jawab Macan.

“Berjalan ke sisi hutan yg lain, utk melatih ketajaman mataku,” lanjutnya.

“Memandangi bintang dan bulan. Menjaga mimpiku utk menjadi besar.”

“Wow! Aku ingin bermain bersama kalian!” seru sang Rusa dg mata berbinar.

“Tidak mungkin,” potong Macan. “Kenapa tidak?” Rusa pun penasaran.

“Karena kamu bukan macan. Kamu harus menjalani hidupmu sebagai rusa,” bisik Macan di telinga Rusa.

“Tidak akan tahu mungkin atau tidak sebelum dicoba, Macan,” Rusa ganti membisiki Macan.

“Kamu memang anak Rusa yang keras kepala dan penasaran,” kata Macan. “Mungkin,” jawab Rusa.

“Aku ingin berteman denganmu, Macan,” kata Rusa.

“Tapi kau tidak bisa bermain dengan teman-temanku. Anak-anak macan lainnya,” Macan mengingatkan.

“Dirimu sudah lebih dari cukup,” kata Rusa.

“Baiklah, kita berteman. Kita bermain setelah tengah hari sampai senja,” Macan menyanggupi.

Mereka pun menghabiskan setengah dari setiap hari bersama-sama.

Berlomba lari, menyeberang sungai, atau sekedar bercengkerama di bawah pohon. Permainan favorit mereka adalah mangsa-dan-pemangsa. Macan mengejar Rusa, yg paling cepat yg menang.

Kadang Macan berhasil menangkap Rusa. Tapi seringkali, Rusa yg menang.

Seiring dengan hari, otot kaki mereka semakin kuat. Mereka tumbuh. Mereka belajar banyak hal.

Waktu berlalu, musim berganti. Suatu sore, Macan dan Rusa bercengkerama.

“Apa mimpimu, Rusa?” tanya Macan.

“Mimpi?” Rusa nampak heran.

“Sesuatu yg paling kau inginkan. Hal pertama yg kau pikirkan ketika kau bangun tidur. Hal terakhir yg kau pikirkan sebelum kau tidur.”

Rusa terdiam. “Kalau aku, aku ingin menjadi macan yg tercepat sehingga aku selalu mendapatkan mangsaku,” kata Macan.

“Kamu harus punya mimpi, Rusa. Kamu harus hidup untuk mimpi itu,” kata Macan sambil meletakkan pipinya di punggung Rusa.

Mereka pulang ke induk masing2. Sejak hari itu, Rusa terus memikirkan kata-kata Macan.

Dia berusaha mendefinisikan mimpinya.

Keesokan harinya, mereka bermain lagi. “Macan!” seru Rusa. “Aku sudah tahu apa mimpiku,” katanya dengan semangat.

“Aku ingin menjadi rusa tercepat, sehingga tidak ada yg bisa memangsaku dan aku tetap bisa bermain denganmu.”

Mereka tersenyum bersama dan kembali bermain. Kemudian bercengkerama lagi.

“Macan, kamu tahu apa itu takdir?” tanya Rusa tiba-tiba. “Takdir?” Macan mengangkat alisnya.

“Kata Burung Dara, takdir itu sesuatu yg tidak bisa dikejar ataupun dibendung. Aku juga tidak terlalu paham,” kata Rusa.

“Kira-kira apa ya takdir kita?” tanya Rusa. Macan hanya tersenyum.

Hari berganti, musim berlalu. Rusa dan Macan terus berkembang. Sampai tibalah Hari-yang-Tidak-Bisa-Dicegah-ataupun-Dikejar.

perburuan besar-besaran dimulai. Macan melewati sekelompok macan lain yg sedang memperebutkan mangsa. Mata Macan terbelalak melihat apa yg ada di hadapannya. Refleks, dia menyerang semua macan di situ. Dia dikeroyok.

Macan kalah, terluka, tercabik. Dia diseret ke tengah lingkaran para macan, digabungkan bersama mangsa tadi.

“Macan, kamukah itu?” suara lirih dari samping si Macan.

“Ini aku…,” Macan menjawab lirih.

di samping Macan, teronggok mangsa dg dada terkoyak, kaki tercabik, berdarah-darah. Suaranya tidak asing bagi Macan.

“Aku gagal, Macan. Aku gagal menjadi rusa tercepat,” kata si mangsa dg tersengal-sengal.

“Kamu sudah berusaha keras… Rusa. Mungkin ini yg dulu kamu sebut takdir,” Macan berusaha mendekatkan kepalanya.

Mereka sama-sama terkoyak dan sekarat. Mungkin ini perbincangan terakhir mereka.

“Aku tidak menyesali ini, Macan. Aku puas sudah belajar banyak,” kata Rusa dg napas terputus-putus.

“Aku punya satu mimpi lagi, Macan.”

“Katakan, Rusa.”

“Aku ingin terlahir lagi sebagai seekor anak macan,” kata Rusa. suaranya semakin menghilang.

“Atau aku saja yg nanti terlahir sebagai anak rusa,” suara Macan juga melemah.

Macan menggerakkan tubuhnya dengan sisa nyawa yg ada. Dia letakkan kepalanya di punggung Rusa.

Tidak ada suara lagi. Kecuali sorak macan-macan lain.